Dalam Islam anak yatim mempunyai kedudukan tersendiri daripada anak-anak lainnya
Islam memberikan perhatian yang besar terhadap nasib orang-orang yang
lemah, fakir miskin, dan anak-anak yatim. Banyak ayat al-Qur’an dan
hadits yang secara khusus menyerukan untuk memerhatikan dan menyayangi
mereka, khususnya anak-anak yatim. Misalnya di ayat berikut : …Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu..” (QS. al-Baqarah [2]: 220). [i]
Anak yatim adalah mereka
yang sudah tidak memiliki orang tua lagi dan keluarga yang
memeliharanya. Sebab itu, menyayangi dan berlemah lembut dengan anak
yatim adalah suatu akhlak yang terpuji. karena ia tidak mungkin mendapatkan kasih sayang dari ayahnya yang telah tiada.[ii]
Barangsiapa yang tidak
memiliki kepedulian terhadap nasib orang-orang miskin dan anak-anak
yatim, serta menelantarkan mereka, sedang ia tergolong orang yang
berkecukupan dan mampu, dikategorikan sebagai pendusta agama. Perhatikan
ayat berikut: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah
orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan
orang miskin. (QS. al-Ma’un [107]: 1-3).
Dalam usianya yang masih belia, tentu mereka
belum mampu bekerja sendiri untuk memenuhi hidupnya sehari-hari. Itulah
sebabnya mereka mendapat perhatian khusus dari Rasulullah SAW, sebagaimana yang tertuang dalam hadits berikut: Rasul SAW bersabda: saya
dan orang yang menanggung (memelihara) anak yatim (dengan baik) ada
surga bagaikan ini, seraya beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk
dan jari tengah dan beliau rentangkan kedua jarinya itu. (HR. Bukhari).
Walaupun demikian, hadits
di atas menjadi pengecualian manakala orang yang mengasuh anak yatim
tersebut tega memakan harta dan rezeki yang diperuntukan bagi anak
yatim. Sungguh perbuatan demikian amatlah terkutuk. Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara
zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka
akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. an-Nissa [4]: 10). [iii]
[i] Muhsin, (2003), Mari Mencintai Anak Yatim, Jakarta: Gema Insani Press, hlm. 2
[ii] Mahmud Syaltut, (1991), Metodologi Al-Qur’an, Solo: CV Ramadhani, hlm. 116
[iii] Moch Syamsi Hasan dan Ahmad Ma’ruf, (2002), Khotbah Jumat Sepanjang Masa, Surabaya: Karya Agung, hlm. 391-393
Tidak ada komentar:
Posting Komentar